//
archives

Archive for

Permasalahan Seputar Telur Dan Piyikan Kenari


Penangkaran burung kenari bisa dijadikan mata pencaharian utama maupun sampingan. Namun, seperti halnya penangkaran jenis burung lainnya, diperlukan kesabaran dan keuletan dalam menjalankan usaha ini. Tidak sedikit penangkar kenari, khususnya pemula, yang akhirnya menghentikan usahanya karena merasa kesulitan melewati tahap awal, yaitu hatching dan nestling. Hatching berkaitan dengan telur dan pengeraman / penetasan telur. Adapun nestling terkait dengan piyikan atau anakan yang baru menetas.

IMG0139A

INDUK KENARI SEDANG MENGERAMI TELURNYA

Berikut ini beberapa masalah yang yang sering dialami pemula dalam penangkaran kenari, terutama berkaitan dengan telur dan piyik, sekaligus mendeteksi penyebabnya:

Burung tidak mau kawin / tidak mau berpasangan

Penyebab dari masalah tersebut antara lain :

  • Kedua induk yang dipasangkan kemungkinan berjenis kelamin sama: jantan x jantan atau  betina x betina. Jadi, pastikan dulu kedua induk masing-masing jantan dan betina.
  • Ada kemungkinan burung belum mencapai umur dewasa kelamin, baik salah satu atau kedua induk yang dipasangkan.
  • Salah satu atau kedua burung belum siap mental untuk kawin. Biasanya terjadi pada burung jantan yang usianya lebih muda daripada burung betina.
  • Merasa takut atau tidak nyaman akibat dari gangguan dalam pencahayaan kandang, lingkungan yang bising, dan sering dilalui orang (pengaruh eksternal)
  • Burung mengalami masalah gizi, baik gizi buruk maupun obesitas yang berlebihan.
  • Burung mengalami gangguan hormonal. Bisa burung betina
  • Burung dalam kondisi sakit.
  • Burung memiliki cacat fisik atau mengalami penyakit keturunan (hereditary).
  • Burung mengalami gangguan dalam sistem reproduksi selain faktor hormonal
  • Terlalu sering dikawinkan dalam satu musim.

Jika kondisinya masih bisa diatasi, Anda bisa menggunakan solusi seperti disebutkan di atas. Tetapi pada beberapa kasus, misalnya cacat fisik, atau belum mencapai umur dewasa kelamin, solusi terbaik adalah mengganti burung bermasalah dengan burung baru.

Pastikan pula kondisi lingkungan kandang mendukung. Usahakan kandang tidak berada di ruang tertutup, dan suhu udara diusahakan relatif stabil. Di dalam kandang perlu disediakan bahan penyusun sarang agar burung terpacu untuk kawin.

+Burung sudah kawin, tapi tidak kunjung bertelur

Penyebab dari masalah tersebut antara lain :

  • Kemungkinan burung bukan sepasang atau sama jenis kelaminnya. Ketika keduanya terlihat rukun dan akrab, Anda mengiranya jantan dan betina, tapi ternyata berjenis kelamin sama. Silakan cek kembali artikel mengenai ciri jantan dan betina.
  • Gairah kawin rendah, baik induk betina, induk jantan, maupun keduanya.
  • Burung betina yang mengalami gangguan dalam sistem reproduksinya.

+Burung sudah bertelur, tetapi infertil

Telur Kopyor

Penyebab dari masalah tersebut antara lain :

  • Kualitas sel sperma burung jantan kurang baik, terutama pada burung yang baru beberapa pekan mencapai umur dewasa kelamin.
  • Ukuran tubuh salah satu burung terlalu besar untuk pasangannya, baik jantan maupun betinanya.
  • Kuku dari burung jantan mungkin terlalu panjang, sehingga menyakiti burung betina saat melakukan ritual kawin, sehingga betina selalu berontak.
  • Kloaka dari induk betina dan jantan tidak melekat dengan erat, akibat terhalang bulu-bulu kecil di sekitar kloaka mereka. Sebagaimana burung jantan pada umumnya, kenari tidak memiliki penis untuk mengawini betina. Saat kawin, jantan hanya menempelkan kloakanya ke kloaka betina. Saat itulah sperma pejantan masuk ke saluran reproduksi betina. Sel sperma bisa memancar dengan baik jika kloaka kedua induk saling menempel dengan rapat. Kloaka kedua burung tidak akan menempel rapat jika terlalu banyak bulu di sekitar kloaka jantan, atau betina, atau keduanya. Cobalah periksa kloaka dari kedua induk yang sudah dijodohkan. Jika banyak bulu-bulu halus, silakan pangkas hati-hati menggunakan gunting kecil.
  • Burung jantan yang dalam kondisi tidak sehat atau kekurangan gizi, sehingga menjadi kurang subur.
  • Burung dalam kondisi mabung. Solusinya ya tunggu dulu sampai selesai mabung.

+Telur fertil, tetapi gagal menetas

Penyebab dari masalah tersebut antara lain :

  • Ada kalanya telur yang gagal menetas adalah karena penangkar sering mengangkat burung betina dari sarangnya, atau selalu “mengganggu” betina saat mengerami telur-telurnya. Gangguan dari binatang lain seperti tikus, kucing, serangga, suara berisik (polusi suara), bau gas, atau bau yang tidak menyenangkan (polusi udara), atau adanya burung lain di sekitar sarang, juga harus dihentikan secepatnya. Khusus untuk serangga seperti kutu, nyamuk, semut, tungau maupun parasit lainnya.
  • Telur kurang mendapat kehangatan selama masa inkubasi (pengeraman). Bisa karena jumlah telur yang dierami terlalu banyak, atau induk sering keluar dari sarangnya.
  • Kulit telur retak, misalnya karena tergores kuku burung yang panjang. Celah kecil pada kulit telur sudah bisa membunuh embrio di dalamnya. Selain retak, telur juga berpotensi pecah karena gerakan spontan dari induk saat kaget atau ketakutan.
  • Telur yang sudah terinfeksi bakteri dari luar. Beberapa jenis bakteri seperti Salmonella dapat menembus kulit telur hingga masuk ke dalam telur.
  • Kesalahan dalam pemberian makanan, misalnya terlalu kering atau terlalu lembab.
  • Penyakit keturunan yang mempengaruhi perkembangan janin dalam telur.

+Burung sudah bertelur, tetapi telur rusak

Telur yang rusak ada kalanya disebabkan oleh keracunan gas seperti karbondioksida (CO2) maupun gas beracun lainnya seperti hydrocarbon atau chlorinated. Gas-gas ini akan menempel dalam cangkang telur dan menyebabkan kerusakan di dalam telurnya.

+Sebagian besar telur menjadi busuk

IMG-20121231-01084

Telur busuk adalah proses di mana isi dari telur tersebut telah membusuk setelah masa inkubasi. Beberapa penyebab telur membusuk antara lain kurangnya masa inkubasi (pengeraman), embrio yang sudah mati di dalam telur karena terkena infeksi bakteri, kelainan genetik, ditelantarkan induk, makanan yang dikonsumsi induk kurang bergizi, dan beberapa sebab lainnya.

+Sebagian besar embrio mati di dalam telur

Sudah dijelaskan dalam poin telur gagal menetas, telur rusak, dan telur busuk.

+Anakan tidak bisa keluar dari cangkang telur

Penyebab dari masalah tersebut antara lain :

  • Kulit telur yang terlalu kering. Suhu rendah bisa menghambat penetasan. Anakan yang siap menetas tapi dalam kondisi lemah jelas  tidak dapat meretakkan cangkang telur dan  keluar pada waktunya, terutama jika cangkang terlalu tebal atau padat. Di sinilah Anda bisa memberikan bantuan dengan memecah cangkang telur, tapi harus hati-hati.
  • Adanya infeksi dan kekurangan gizi pada induknya.
  • Kepala anakan terjebak di bawah sayap kirinya, sehingga tidak bisa bergerak untuk menghancurkan kulit telurnya, dan akhirnya mati sebelum keluar dari telur.
  • Hal yang sama juga dialami oleh anakan yang kakinya berada di atas kepalany

+Anakan lemah atau mati di dalam sarang

Penyebab dari masalah tersebut antara lain :

  • Kematian anakan bisa terjadi akibat kelalaian dari induknya, terutama induk muda yang masih belum berpengalaman.
  • Induk betina terkena penyakit atau mengalami sakit sehingga tidak merawat anak-anaknya sebagaimana mestinya.
  • Kesalahan dalam pemberian pakan
  • Infeksi karena penyakit akibat kurang terjaganya kebersihan sarang.

Itulah beberapa faktor penting yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penangkaran burung kenari, terutama pada tahap hatching dan nestling. Tapi jangan pernah pantang menyerah, bahkan penangkar yang sudah berpengalaman pun terkadang mengalami berbagai masalah dalam penangkarannya.

Semoga bermanfaat.

klubburung

Japan hoso, bahan untuk mencetak kenari unggulan


Kenari japan hoso mungkin terdengar masih asing di telinga kita, kenari jenis ini sebenarnya sudah diperkenalkan para penangkar di Jepang pada tahun 1963, dan mulai popular di Eropa pada dekade 1970-an. Japan hoso merupakan kenari silangan antara scotch-fancy dan kenari lokal Jepang. Tidak heran jika ada juga yang menyebutnya sebagai scotch fancy mini.

Banyak yang mengira bahwa japan hoso merupakan miniatur dari kenari scotch-fancy. Jenis yang disebut terakhir ini merupakan hasil dari persilangan antara kenari bengkok begia dan kenari dari Munich (Jerman).

Ternyata anggapan itu salah, karena japan hoso adalah silangan antara scotch-fancy dan kenari lokal Jepang yang berukuran kecil. Karena itulah, japan hoso punya postur yang lebih kecil dari scotch-fancy.

Postur tubuhnya yang membungkuk seperti bulan sabit, dengan ekor selalu melintang di bawah tangkringan, membuat kenari ini banyak disukai.

Kepalanya terlihat kecil, dengan bentuk semi bundar. dengan leher yang tipis dan panjang. Ukuran tubuhnya sekitar 11-11,5 cm.

japanese__hoso_1

Japan hoso sangat bagus dijadikan indukan, karena tidak kenal lelah dalam merawat dan memberi pakan kepada anak-anaknya dalam waktu bersamaan. Di negara asalnya, kenari ini banyak dibudidayakan karena beberapa keunggulan, antara lain mudah berkembang biak, induk sangat produktif, dan perawatan pun realatif mudah.

Karena japan hoso termasuk jenis kenari postur (lebih dinikmati karena keindahan tubuhnya), sehingga tidak membutuhkan perawatan tambahan seperti pemasteran atau melatih suaranya. Itulah yang membuat kenari jenis ini lebih sering digunakan sebagai indukan produktif dalam penangkaran, dan kalaupun dikonteskan hanya sebagai kenari postur.

Meski demikian, suara japan hoso cukup bagus dan bisa dipelihara sebagai burung kicauan di rumah. Bukan hanya itu, japan hoso juga merupakan bahan yang bagus untuk “mencetak” berbagai jenis kenari unggulan. Artinya, ia bisa dijadikan salah satu induk (jantan atau betina) untuk disilangkan dengan jenis kenari lainnya.

Contohnya adalah kenari kurdsville, atau disebut juga kenari monyet, yang merupakan hasil persilangan antara japan hoso dan american singer canary. Sang breeder, Dean Kurdi, yang tinggal di Louisville, Amerika Serikat, memperkenalkan hasil persilangan itu pada Maret 2010.

Kelebihan japan hoso sebagai bahan adalah tingkat keberhasilan penangkaran yang tinggi. Selain itu, jarang dijumpai ada keturunannya yang mengalami gangguan kesehatan, kebotakan, infeksi bakteri, dan sebagainya. Bahkan anakan mereka cenderung memiliki imun yang tinggi terhadap bakteri seperti air sac mite maupun kelainan genetik.

Untuk pasaran Indonesia, keberadaan kenari japan hoso memang belum sepopular scotch-fancy maupun kenari postur lainnya. Namun untuk penangkar yang senang bereksperimen mencetak  varietas kenari baru, indukan japan hoso bisa dijadikan salah satu alternatif untuk menciptakan kenari unggulan khas indonesia.

Semoga bermanfaat.

klubburung

Pengaruh Lampu Terhadap Jenis Kelamin Kenari


Banyak penangkar kenari yang mengeluh dan bertanya: mengapa induk kenari yang dimilikinya menghasilkan lebih banyak anakan betina daripada jantan, atau justru sebaliknya? Secara teori, probabilitas (kemungkinan) anakan yang dihasilkan induk kenari adalah 50% jantan dan 50% betina. Tetapi dalam berbagai penelitian, ternyata sistem pencahayaan yang digunakan dalam penangkaran burung kenari juga mempengaruhi probabilitas tersebut.
Sebuah artikel dari Canary Science menjelaskan, di habitat aslinya, cahaya matahari turut mengontrol jenis kelamin burung sebelum telur menetas. Hal itu tergantung di mana indukan membangun sarang, dan tergantung pula pada intensitas cahaya matahari yang diterimanya, misalnya CRI (Color Rendering Index) dan panas patahari (Kelvin / K).

• Jika sarang dibangun di tempat di mana burung bisa menerima 75 persen / lebih sinar matahari (atau 25% kurang teduh) setiap hari, maka sebagian besar anaknya akan berjenis kelamin jantan.
• Jika sarang dibangun di tempat yang menerima 25 % sinar matahari atau kurang dari itu (75% teduh) setiap hari, maka sebagian besar anaknya akan berjenis kelamin betina.
• Jika sarang dibangun di tempat yang mendapatkan 50% sinar matahari dan 50% teduh setiap hari, maka probabilitas jenis kelamin anaknya sama seperti teori probabilitas pada umumnya (50 : 50).

Pengujian menggunakan lambu berbeda menghasilkan anakan dengan jenis kelamin berbeda pula.
Dari sini bisa dipelajari, intensitas matahari adalah kombinasi antara cahaya terang dan radiasi panas. Kita menerima cahaya dan panas dari matahari dalam jumlah yang berbeda setiap waktu dan musim. Ketika radiasi langsung dari matahari tidak terhalang oleh awan, maka yang terjadi adalah sinar mahari yang penuh spektrum (full spectrum light).
Berikut ini beberapa pengujian pada kandang penangkaran kenari dengan menggunakan lampu neon / fluorescent yang berbeda-beda :

• Type A : Full spectrum fluorescent light, atau lampu neon full spektrum, yang menghasilkan 98 CRI dan 6500 K, atau intensitas cahaya tinggi.
• Tipe B : Medium spectrum fluorescent light, atau lampu neon dengan spektrum sedang, yang menghasilkan 91 CRI dan 5000 K, atau intensitas cahaya sedang.
• Tipe C : low spectrum fluorescent light, atau lampu neon dengan spektrum rendah, yang menghasilkan intensitas cahaya rendah.

Dari percobaan di penangkaran dengan menggunakan beberapa jenis lampu neon tersebut, hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut:

1. Tahun I (2008), kandang penangkaran menggunakan lampu tipe A. Ada 34 pasang induk kenari, dan menghasilkan 306 burung jantan dan 102 burung betina selama masa berkembang biak.
2. Tahun II (2009), di kandang penangkaran yang sama, menggunakan lampu tipe B. Ada 34 pasangan induk, dan menghasilkan 203 burung jantan dan 198 burung betina.
3. Tahun III (2012), di kandang penangkaran yang sama, menggunakan lampu tipe C. Ada 34 pasangan induk, dan menghasilkan 107 burung jantan dan 311 burung betina.

Bisa dilihat bahwa makin tinggi intensitas cahaya di dalam kandang penangkaran, makin tinggi kemungkinan anak kenari berjenis kelamin jantan. Sebaliknya, makin rendah intensitas cahaya, maka makin tinggi kemungkinan anak kenari berjenis kelamin betina.

Dari percobaan tersebut, ada beberapa fungsi pencahayaan yang sangat penting bagi burung kenari dalam kandang penangkaran, yaitu:
• Cahaya sangat penting untuk kebutuhan kenari dan mereka sangat sensitif terhadapnya.
• Jumlah cahaya / intensitas cahaya yang diterima kenari bisa mengontrol istirahat dan tidur mereka, molting, dan masa perkembangbiakan.
• Cahaya yang diterima oleh mata burung kenari akan berefek pada hormon testeteron di dalam tubuhnya dan wilayah otak yang memegang kendali untuk burung bisa bernyanyi. Makin banyak cahaya yang diterima, makin meningkat kadar hormon tersebut.

Semoga bisa menjadi referensi

klubburung

Penyebab kenari sering mematuki kakinya


Penyebab kenari sering mematuki kakinya

Dalam artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai apa penyebab dan cara mengatasi burung kenari indukan yang mengalami kebotakan. Sekarang kita bahas permasalahan umum lainnya yang juga sering terjadi pada burung imut ini, yaitu kenari yang sering mematuki kakinya sendiri. Dalam beberapa kasus, ada juga induk kenari yang mematuki kaki piyikannya. Apa penyebab dan bagaimana cara mengatasinya, ikuti artikel berikut ini.

Kalau Anda perhatikan dengan seksama, kenari yang mematuki kakinya tersebut sebenarnya juga memakan remahan-remahan yang menempel pada kakinya. Hal seperti itu umumnya dijumpai pada kenari piaraan di rumah, yang memiliki faktor pemicu untuk mengalami gangguan tersebut. Tetapi pada indukan yang sedang mengasuh anaknya, yang sering muncul adalah induk mematuk kaki anak-anaknya.

Nah, apa faktor pemicunya? Umumnya, gangguan itu disebabkan burung kekurangan nutrisi (malnutrisi), kekurangan (defisiensi) vitamin, dan defisiensi mineral terutama kalsium (Ca).

Seperti diketahui, burung dalam proses pembentukan tulang dan bulu-bulunya membutuhkan nutrisi tinggi, terutama kadar protein dalam makanannya. Protein yang sangat berperan di sini adalah keratin.

Selain itu, burung juga memerlukan beberapa jenis vitamin tertentu, terutama vitamin A, B, C, D, dan beta karoten. Asupan kalsium yang kurang juga akan berakibat burung mengalami defisiensi mineral, sehingga dengan caranya sendiri burung berusaha mencukupinya, termasuk dengan mematuki kakinya sendiri, atau kaki anak-anaknya.

Malnutrisi pada protein keratin, kekurangan kalsium, dan defisiensi vitamin tertentu seperti disebutkan di atas, itulah yang merupakan faktor pemicu mengapa burung kenari sering terlihat mematuki kakinya atau kaki anak-anaknya. Faktor pemicu itu bisa bersifat tunggal, misalnya hanya kekurangan kalsium saja, atau kombinasi dari beberapa faktor.

Sisik pada bagian kaki mengandung kalsium dan protein keratin. Apabila kebutuhan kalsium dan keratin dalam pakan yang kita berikan tetap tidak terpenuhi, burung akan mengambil jalan pintas dengan mematuki sisik-sisik tersebut.

Hal ini tentu menyakitkan, apalagi anakan kenari yang kakinya dipatuki induknya. Apabila tidak segera ditangani, maka kenari akan mengalami stres dan mengakibatkan kondisi fisiknya makin tidak fit. Belum lagi kalau sampai muncul perdarahan dan luka.

Karena itu, pastikan burung selalu mendapat asupan pakan yang bergizi dan seimbang. Pakan bergizi tinggi bisa diperoleh melalui berbagai sumber, antara lain pemberian telur rebus yang dicampur dengan cangkang telurnya yang dihaluskan. Perlu diketahui, putih telur (albumin), kuning telur (yolk), dan cangkang telur merupakan sumber nutrisi lengkap bagi burung kenari, karena banyak mengandung protein tinggi, vitamin, dan mineral khususnya kalsium. Karena itulah, pasangan kenari perlu diberi 1/4 telur rebus ini termasuk cangkangnya setiap hari, yang dapat membantu indukan dalam memberikan makan untuk anak-anaknya.

Berikan juga sayuran berwarna hijau tua untuk burung yang mengalami kekurangan nutrisi, lima kali dalam seminggu. Beberapa penggemar kenari di luar negeri malah sering memberikan nasi putih untuk kenari yang sering mematuki kakinya, dua kali dalam seminggu.

Nasi putih ? Ya, nasi putih ! Bahan pangan ini mengandung banyak karbohidrat dan zat-zat lain yang dibutuhkan tubuh, terutama untuk membantu pertumbuhan tulang dan otot. Pemberian nasi putih bisa membantu mengatasi kenari yang mengalami malnutrisi dan defisiensi kalsium, sehingga melampiaskannya dengan cara mematuki kakinya sendiri atau kaki anak-anaknya.

Semoga bermanfaat

Klubburung