//
you're reading...
Kenari

Awal Cerita Kenari


Berawal dari hobby merawat burung dari kecil, 18 tahun yg lalu sy pernah memelihara ratusan burung dara, beberapa burung paruh bengkok seperti nuri, burung elang laut dan hewan-hewan lainnya seperti siamang [kera hitam yg pintar], dll. lalu setelah berjalannya waktu hobby tersebut lama sekali sy tinggalkan, baru setelah sy menikah, hobby untuk mencoba merawat hewan, khususnya burung kembali muncul, hal ini tidak terlepas dari seringnya sy melihat burung-burung ocehan milik tetangga, milik teman dan koleksi teman-teman kicau mania lainya, akhirnya sy kembali tak kuasa untuk kembali ingin merawat burung ocehan, burung pertama sy beli dan rawat adalah burung jalak kebo dan kutilang, lalu sejalan dengan bergulirnya waktu sy mulai coba merawat ocehan yg lebih ramai dimainkan di arena lomba maupun hanya untuk kelangenan saja, seperti Murai batu, kacer, kenari, jalak suren, cucak cenggot, ciblek, prenjak, lovebird, dll.

Tanpa sy sadari, hari demi hari burung ocehan sy terus bertambah banyak, dan akhirnya baru sy tersadar bahwa waktu sy sebenarnya tidaklah cukup banyak untuk merawat burung-burung tersebut. belum lagi isteri yg awalnya tidak terlalu senang dengan hobby sy ini. ditambah lagi sy harus berangkat “nguli” pagi-pagi sekali, pulang jg sudah malam, sehingga untuk menikmati merdunya kicauan koleksi sy tersebut hanya bisa sy dapatkan diwaktu libur, sedangkan untuk menjadikan burung-burung ocehan tersebut tetap dalam kondisi baik, sehat dan rajin berkicau tidaklah cukup hanya cukup dengan adanya air minum dan makanan, perlu penjemuran dan mandi yg cukup, EF atau pakan tambahan yg memang sedikit merepotkan menemukan settingan yg pas bagi setiap burung-burung tersebut dan jelas kebersihan kandang yg harus selalu terjaga bersih. sehingga banyak dari burung ocehan yg sy miliki itupun satu persatu mengalami banyak masalah, mulai dari macet bunyi, kurang fit, dan sakit.

Sekarang izinkan sy bercerita dengan berbagi pengalaman awal mulanya sy menyukai burung kenari. cerita sy lanjutkan…Akhirnya satu persatu burung ocehan milik sy pun sy jual. cerita terus berlanjut ketika sy menemukan dan melihat artikel dan jual beli burung burung kicauan disalah satu web di internet. singkat cerita, dari situlah sy mulai tertarik dengan ocehan yg bernama burung kenari, burung kecil dengan warna beragam yg memukau dan memiliki suara panjang yang sangat merdu, kerena waktu itu sy belum banyak tahu tentang jenis dan karakter burung kenari, akhirnya memaksa sy untuk terus mencari tahu dan memperbanyak referensi untuk mengetahui uniknya burung ini.

Setelah sy rasa cukup mencari referensi, akhirnya sy membeli seekor burung kenari dipasar burung jatinegara jakarta timur. kenarinya masih bahan, warna bon, seharga 60k, sy tidak tahu pasti berapa usianya. bodynya kecil dan belum bunyi, sy pun tidak tahu pasti apakah kenari tersebut jantan atau betina, si penjual burung [akan selalu] bilang… jantan. sy rawat kurang lebih 2 bulan, kenari tersebut belum juga menunjukan kegacorannnya [ngeriwik juga ga…]. akhirnya setelah sy cari tahu, dengan banyak nanya, seperti meniup dubur, dll. akhirnya sy yakini kenari tersebut betina. tetapi kekesalan dan kekecewaan sy tidaklah lama dan ketertarikan sy dengan burung indah ini terus berlanjut.

Seterusnya kenari bahan itu sy barter dengan burung lain yaitu cucak ijo dan jalak suren + sy nambah dengan tledakan laut sy dan sedikit uang ke seorang teman yg tak sengaja berkenalan didepot air minum isi ulang dekat rumah. lalu dari group kicau difacebook sy kembali mencoba mencari kenari lagi dan akhirnya sy kembali membeli seekor kenari orenge gacor [rumahan] dari orang ditangerang seharga 275k dan seekor anakan murai batu bahan seharga 375k [yg akhirnya setelah 1 minggu sy rawat murai itupun mati…karna belum ngepoor, belum lagi kalo ingat dan dipikir-pikir bagaimana sy mengambil burung tersebut ke tangerang waktu itu sedangkan sy tinggal dijakarta timur yg hampir sudah berbatasan dengan bekasi membayangkan waktu itu sy benar-benar sepertinya ga sanggup kr dgn hanya 1 motor sy harus membawa 2 ekor burung dengan kandang yg cukup besar + salah-salah jalan, dan hujan-hujanan]. kembali ke soal kenari yg sy beli itu, umur kenarinya kayaknya sudah mapan. hari pertama sampai kurang lebih 1 bulan lebih sy rawat kenari tersebut rajin berkicau, tetapi setelah itu kenari tersebut moulting [mabung]. tetapi sy masih tetap merawatnya sampai selesai mabung, namun setelah selesai mabung dan rapi bulu lagi, kenarinya jadi macet bunyi walaupun sudah sy lakukan treatment untuk mengembalikan kegacorannya selama 1 bulan lebih.

Setelah sekian lama menunggu, kenari orange itu tak juga kunjung berkicau. akhirnya untuk kedua kalinya kenari orange itu sy barter dengan seekor burung cendet jateng [gacor] + sy nambah burung manyar dan uang 150k dikois burung deket rumah juga. tetapi sy tak lantas malas untuk merawat kenari lagi, karena semakin hari keinginan sy semakin kuat untuk untuk tetap ingin mencari kenari yg sesuai dengan harapan sy.

Dari salah satu web kicau di internet akhirnya sy kembali membeli seekor kenari bon gacor dari orang yg tinggal dipondok ungu bekasi. body sedang cenderung kecil tapi gacor sekali siang dan malam, seharga 200k. benar-benar berisik dan sy sangat senang sekali memilikinya karena sy ingat benar bagaimana sy dengan susah payahnya untuk mengambil membeli kenari tersebut ke pondok ungu. sy rawat kurang lebih satu bulan. entah bagaimana [mungkin dikarena sy masih belum mantab untuk serius merawat kenari] lalu sy tertarik dan berpikir untuk kembali ingin merawat murai batu. akhirnya kenari gacor itupun sy jual untuk tambahan membeli murai batu. setelah itu lama sekali sy tidak lagi memiliki atau merawat kenari.

Baru setelah diawal tahun 2011, semua cerita ini sepertinya kembali mulai berlanjut. waktu itu, kebetulan sy masih tinggal diperumahan pondok mertua indah. pada suatu hari bapak mertua sy [penghobby kicauan juga] membeli 2 pasang kenari dari salah satu peternak dibandung, 1 ekor red intensive dan 3 ekor kenari orange umur 4-5 bulanan, dengan maksud nantinya ingin dicoba diternak kalo sudah cukup waktunya. beliau jg sudah membeli 3 kandang besi ukuran 40x40x60 cm. dari situlah rasa keinginan sy yg kuat untuk coba merawat dan beternak kenari semakin tak lagi dapat sy tolak, hal ini sejalan dengan apa yg mungkin dipikirkan oleh bapak mertua sy yg juga ingin mencoba beternak kenari. beliau kembali membeli 4 ekor kenari orange betina dari peternak yg sama dibandung. sy pun terus mencari kenari-kenari indukan lainya, 2 burung ocehan sy yg terkahir yaitu ciblek dan murai batu pun sy barter dengan 6 ekor kenari indukan siap produksi. dan sekarang sy mantap untuk fokus ke breeding kenari saja. setelah sepasang indukan kenari sy mulai bertelur dan mengeram, dengan dibantu bapak mertua sy lalu membuat kandang permanen 10 pintu dengan ukuran 50x40x50cm, akhirnya sedikit demi sedikit kandang itu pun rampung dalam waktu 3 minggu.

Beberapa waktu yg lalu pasangan indukan kenari sy sudah mulai menetas, hal ini membuat sy semakin yakin untuk fokus beternak kenari…burung kecil, memiliki warna beragam dan bersuara sangat merdu itu. dan saat ini yg terlintas dibenak sy hanyalah ingin memproduksi kenari sebanyak-banyaknya, tidak berpikir bagaimana bisa menciptakan kenari-kenari unggul kualitas lomba dengan materi lagu yg beragam, dll. namun bisa melihat kenari-kenari itu bisa berkembang biak, melihat indukan melolohkan makanan ke anak-anaknya, melihat anak-anakan kenari bisa tumbuh dengan sempurna mencapai kedewasaanya itu sudah lebih dari segalanya.

 

 

 

About pondokenari

Salam Kicau... Kicauan burung kenari akan selalu menenangkan hati....

Diskusi

2 thoughts on “Awal Cerita Kenari

  1. harga kenari nya berapaan om ?

    Posted by dwi erza | 20 Juli 2012, 8:02 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: